Stasiun, Kereta, dan Undak-Undakan Pembeda Kelas

July 5, 2008

jbuvytpc6chdcap14tf.jpgUntuk kesekian kalinya saya kembali berkunjung ke salah satu tempat teramai di seluruh Jogja, Stasiun Tugu. Setelah membayar jasa peron tigaribu rupiah, kami mengambil tempat duduk di tempat perhentian kereta sebelah utara.

Menurut tiket yang dipegang Aulia, kereta bisnis Mutiara Selatan tujuan stasiun Gubeng Surabaya, akan tiba pada pukul 01.00 WIB, sehingga diperkirakan kami hanya perlu menunggu selama 30 menit. But, this is Indonesia. Maka, dari corong pemberitahuan stasiun, kami mendapat informasi bahwa kereta tersebut akan tiba empatpuluh menit lebih lambat daripada jadwal. Melayangkan pandang ke sekitar peron, saya mendapatkan sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya temui sebelumnya. Pada jalur kereta sebelah utara ini, sedang dibangun undak-undakan setinggi sekitar tujuhpuluh senti yang bersisian dengan setiap kereta yang berhenti untuk menaikturunkan penumpang.

Fisik kereta api yang tidak sejajar dengan permukaan tanah merupakan sebuah kendala yang harus dihadapi setiap penumpang kereta. Sebelum adanya undak-undakan tersebut, biasanya setiap petugas stasiun akan menyediakan tangga kecil untuk masing-masing sebagai pembantu akses keluar masuk gerbong. Jika Anda adalah seorang pemuda berusia duapuluh lima tahun dan bertubuh sehat maka aktivitas untuk naik dan turun gerbong melalui tangga kecil bukanlah hal yang sulit.

Namun, bayangkan jika penumpangnya adalah ibu-ibu yang menggendong anak, orangtua uzur yang berjalan tertatih-tatih, atau para difabel yang tak mampu berjalan tegap sebab mereka begitu bergantung pada roda di kursi mereka. Maka, keberadaan undak-undakan tersebut sangat membantu setiap penumpang yang akan masuk dan keluar dari gerbong.

stasiun tugu jogjakartaSebelum hari ini, keberadaan undak-undakan tersebut lebih berfungsi sebagai pembeda kelas antara eksekutif dengan bisnis dan ekonomi ketimbang sebagai fasilitas dasar yang wajib diadakan. Sebab, alih-alih dibuat bersamaan, undak-undakan tersebut lebih dahulu dibangun pada jalur kereta sebelah selatan yang dilalui oleh kereta api kelas eksekutif.

Dengan dibangunnya undak-undakan di jalur kereta api sisi utara, saya beranggapan bahwa pihak pengelola Stasiun Tugu sudah berniat dan beraksi untuk memanusiakan para pengguna jasa kereta api. Saya memang tak pernah tahu, kapan Stasiun Tugu berdiri untuk yang pertama kali. Namun saya sedikit berprotes ketika realisasi undak-undakan tersebut baru bisa diwujudkan pada tahun duaribu delapan, berpuluh tahun ketika manusia-manusia berlalu lalang meramaikan stasiun Tugu.

Pukul 01.40 WIB, lampu kereta Mutiara Selatan mulai terlihat dari kejauhan. Dalam hitungan menit, desahan mesinnya mulai merambati seluruh area perhentian. Dari luar, kami mengamati bahwa penumpang yang turun tidak terlalu banyak, menandakan bahwa kereta ini tidak terlalu sesak untuk ukuran musim liburan bulan Juli ini.

Namun, ketika melangkah naik ke gerbong, pemandangan yang terlihat jauh berbeda dari luar. Jelas kereta tersebut berstatus penuh sebab begitu banyak orang yang duduk dan tidur di lorong kereta serta di kolong kursi penumpang. Mencari tempat duduk bernomor 4B bukanlah hal yang susah, namun kenyataan berkata lain. Sudah ada penumpang lain yang menduduki tempat duduk yang sama. Bukan penumpang gelap, sebab ia juga memiliki nomor tempat duduk yang sah. Maka, yang ada adalah tiket kembar.

Saya hanya menggumam,”Oh, PT Kereta Apiā€¦ Oh, kelas bisnis..”

Image credit www.skyscrapercity.com – multiply.com

MORE READINGS