Orang Tertinggi di Dunia

Saat ini Babu adalah pemegangnya. Dia adalah operator crane untuk pembangunan hotel Burj Dubai, Uni Emirat Arab. Bangunan tertinggi di dunia.

the highest man

Sementara ini belum ada artikel sejenis

12 thoughts on “Orang Tertinggi di Dunia

  1. EDY CAHYA says:

    Kayaknya ada yang lebih tinggi dari foto itu dech mas. Yang motret kali yaa…
    ——————————————————–
    Benar sekali, mas Edy

  2. sobri wardana says:

    kayaknya waktu kecil lompat2 kli
    ———————————————————————————–
    Lompat karet

  3. mas apa udah liat kesana?
    emang klo gtu mah, bisa aja rekayasa.
    jangan ngarang ya mas.!
    ————————————————————————————–
    Mengarang itu penting. Mengasah ketrampilan

  4. maksud nya apa masalah keterampilan?
    klo mengarang, itu sama aja membajak Mas?
    ————————————————————————————–
    Beda dong, mas. Mengarang itu pekerjaannya Arswendo Atmowiloto. Membajak itu pekerjaannya Jack Sparrow.

  5. reza says:

    mank tinggi na berapa sech????????
    tinggian jga monas “………
    ^_^
    ————————————————————————————–
    Manut lah, tinggian Monas juga…

  6. Berikut artikel yang saya copy paste dari situs lain, berita yang kurang menggembirakan tentang rencana pembangunan gedung tertinggi di dunia, mungkin akan tertunda 2 atau 3 tahun.
    ====================================

    DUBAI (SuaraMedia News) – Dubai selama ini dikenal sebagai kekuatan baru bisnis global dari dunia Arab. Namun kota elit di Uni Emirat Arab itu kini malah terbelit utang maha besar. Akibatnya otoritas setempat meminta penangguhan pembayaran utang pokok (standstill) hingga enam bulan kepada para kreditur manca negara.

    Sebagai pengelola utama pembangunan Dubai, konsorsium Dubai World meminta para kreditur untuk bersabar menerima pembayaran utang hingga Mei 2010. Utang pokok yang harus ditanggung Dubai World sebesar US$60 miliar. Bila termasuk bunga, beban yang harus ditanggung grup perusahaan dukungan pemerintah itu menjadi sekitar US$80 miliar.
    Anak perusahaan Dubai World yang bergerak di sektor real estate, Nakheel, kini memikul beban paling berat untuk membayar utang ke sejumlah bank, perusahaan investasi, dan kontraktor. Kini, konsorsium yang juga dikenal dengan nama Dubai Inc. itu harus mengandalkan dukungan pemerintah.

    Pengelola Dubai diharapkan juga mendapat bantuan talangan dari tetangganya, Abu Dhabi, yang merupakan ibukota Uni Emrirat Arab.

    Kesulitan yang dialami Dubai World itu mengguncang bursa saham global. Indeks harga saham pasar-pasar di Eropa dan Asia anjlok secara signifikan. Sedangkan bursa saham Wall Street hari ini hingga akhir pekan menikmati masa libur panjang Thanksgiving. Begitu pula dengan bursa-bursa di Timur Tengah, yang juga libur karena libur panjang Idul Adha.

    “Pengumuman penangguhan pembayaran utang dari Dubai itu masih belum jelas. Sulit untuk mengartikan apakah penangguhan itu bersifat sukarela,” demikian pernyataan Eurasia Group, lembaga penelitian yang berbasis di Washington DC, AS.

    “Bila tidak sukarela, Dubai World akan mengalami default [gagal bayar] dan ini akan menimbulkan dampak negatif bagi utang luar negeri Dubai, Dubai World, dan kepercayaan pasar atas Uni Emirat Arab secara keseluruhan,” demikian pernyataan Eurasia Group. (ap/wn) http://www.suaramedia.com

    ======================

    Negara Teluk Parsi, Dubai, terkena dampak krisis ekonomi. Puluhan ribu karyawan telah di-PHK dan diusir dari negara. Masyarakat Belanda di Dubai juga merasakan akibat kemunduran ekonomi ini.

    Jan Demmink sudah menetap di Dubai sejak 28 tahun lalu, karena suasana, iklim, dan jiwa dagang Dubai yang menyenangkan. Dia menyaksikan kota kecil yang tenang dan sejahtera berubah menjadi kumpulan pencakar langit. Di bawah pimpinan syekh Mohammed dan ayahnya, Maktoum III, emirat ini menanam modal di sektor keuangan, pariwisata, dan barang tak bergerak. Besar, mahal dan mewah. Dan justru sektor-sektor itu yang terkena krisis, padahal Dubai tidak mempunyai cukup persediaan minyak untuk menyelamatkan ekonomi.

    Dihentikan
    Lapangan kerja Jan Demmink di bidang pengamanan elektronik – antara lain untuk kilang minyak, istana, dan jalan – masih aman. “Saya bekerja untuk proyek jangka panjang, jadi akibat krisis tidak terlalu terasa,” katanya. “Tetapi di bidang pembangunan akibatnya sudah terlihat. Proyek-proyek yang baru mulai, atau sudah direncanakan, malah dihentikan atau dibatalkan.”

    Perusahaan pengeruk Van Oord dari Belanda terkena akibatnya. Perusahaan Pengeruk – yang terkenal karena pembuatan Palm Jumeirah, pulau pohon palm pertama, dan pembangunan kepulauan De Wereld – dipilih untuk membuat kepulauan ketiga: Palm Deira. Mereka menerima order senilai 2,5 milyar Euro, kontrak terbesar dalam sejarah perusahaan tersebut. Sebagian sudah diserahkan, tetapi untuk sementara sisanya ditunda. Kekurangan uang.

    Menurut juru bicara Bert Groothuizen tidak ada yang meramalkan perubahan cepat ini. “Penurunan yang terjadi sangat drastis. Khususnya pada triwulan keempat tahun 2008. Dan, menurut saya, masalah belum akan selesai pada pertengahan tahun ini.”

    Taman ria
    Chris Rademakers, business development manager di Visser & Smit Hanab, perusahaan dari Papendrecht, Belanda, melihat kemewahan dan kemeriahan menghilang pelan-pelan. Taman ria Dubailand, besarnya dua kali lipat Disney World, untuk sementara belum dibuka. Para pembeli apartemen mewah di De Wereld juga tidak ada. Tetapi pembangunan metro, jalan, dan bandara baru tetap berjalan. “Ini proyek-proyek yang akan berguna untuk negara. Hanya saja, serah-terimanya ditunda.”

    Sekitar 85% penduduk Dubai berasal dari luar negeri, di antaranya sekitar 6000 expat Belanda. Mempunyai pekerjaan adalah syarat mutlak untuk tinggal di Dubai. Orang yang kehilangan pekerjaannya harus keluar negara. “Karena itu pengangguran adalah konsep relatif di sini,” kata pengaman Jan Demmink. Kepergian para penganggur terlihat di jalanan. “Tiba-tiba ada rumah yang disewakan. Beberapa tahun lalu, hal itu tak dapat dibayangkan. Dan sekarang jalanan juga jadi lebih sepi. Jumlah mobil berkurang dibandingkan beberapa bulan lalu.”

    Mobil mewah
    Bukan hanya orang berpendidikan rendah yang meninggalkan Dubai. Natal tahun lalu, media Dubai melaporkan, ribuan mobil mewah yang di-leasing, ditinggalkan begitu saja di parkiran bandara. Sejumlah expat meninggalkan semua milik mereka di Dubai, lalu pulang. Sekarang, Dubai ingin menyesuaikan undang-undang visa untuk menghindari brain drain. Manajer dan pakar-pakar diizinkan tetap tinggal di Dubai, walaupun sementara tidak punya pekerjaan.

    Seberapa jelek sebenarnya posisi Dubai, adalah hal yang sulit diperkirakan. Pembangunan mega dibiayai pengembang proyek, atau uang pinjaman dan investasi asing. Karena tekanan internasional bertambah, akhir tahun lalu salah satu pemimpin Dubai mengaku, jumlah utang negaranya sekitar 80 milyar dolar, sedangkan aktiva yang dimiliki bernilai 1300 milyar. Tidak ada masalah sama sekali, katanya menenangkan. Angka itu hampir tidak dapat diperiksa dan pemerintah tidak mau memberi informasi tentang kebangkrutan dan PHK.

    Kontrak sementara
    Perusahaan pengeruk Van Oord tidak mempunyai pekerjaan lagi untuk sebagian besar karyawannya di Dubai. Khususnya untuk karyawan dengan kontrak lokal yang tidak tetap. “Sayang,” kata juru bicara Groothuizen, “kami menganggap mereka anggota keluarga Van Oord. Ada yang sudah bekerja lama sekali untuk kami. Kami juga kehilangan pengetahuan dan pengalaman.” Sejumlah besar orang Belanda juga ditugaskan ke tempat-tempat lain.

    Kota tanpa penduduk
    “Dubai tidak akan berubah menjadi kota tanpa penduduk,” kata manajer Chris Rademakers.

    “Krisis ini hanya akan berlangsung dua atau tiga tahun. Sementara ini para pengembang proyek terpaksa harus istirahat. Kalau nanti ada dana lagi, mereka akan meneruskan proyeknya.” Penduduk menyesuaikan diri, kata Chris. “Masih ada banyak uang. Gedung-gedung kosong, tapi harga sewanya masih enam kali lipat dibandingkan Amsterdam. Mal-mal mewah penuh sesak. Jadi, apanya yang krisis?”

    Masa depan dirinya juga tidak terancam, harapnya. “Perusahaan kami berkonsentrasi di bidang infrastruktur dan di situ tidak ada masalah. Saya berharap masih bisa tinggal di sini beberapa tahun lagi.”

    ========================

    DUBAI (SuaraMedia News) – Sebuah tim dari Dana Moneter Internasional (IMF) akan mengunjungi Dubai dalam beberapa minggu ke depan untuk melihat lebih dekat dampak dari krisis hutang Dubai World dan tindakan yang dibutuhkan untuk mengatasinya, ujar seorang pejabat senior IMF pada hari Senin.

    Dalam sebuah wawancara, Direktur IMF untuk Timur Tengah dan Asia Tengah Masood Ahmed mengatakan bahwa kunjungan itu adalah sebuah kesempatan bagi IMF untuk memperbarui dan menyimpulkan penilaiannya tentang Uni Emirat Arab di tahun 2009.

    Dubai terguncang oleh persoalan hutang yang dialami oleh Dubai World milik pemerintah, yang saat ini menemui para kreditor untuk menunda pembayaran hutang sebesar USD 26 miliar, merusak reputasi sebagai pusat bisnis Teluk Arab.

    Ahmed mengatakan bahwa dampak dari krisis itu tampaknya berhasil ditahan setelah satu minggu penuh kekhawatiran di kalangan investor internasional bahwa krisis akan menyebar. Sementara kekhawatiran telah mereda, dampak krisis itu kemungkinan akan bertahan lebih lama bagi Uni Emirat Arab dan beberapa tetangganya.

    Ahmed mengatakan bahwa mulai sekarang para pemberi pinjaman kemungkinan akan menuntut lebih banyak transparansi finansial dari perusahaan yang didukung pemerintah itu ketika meminjam uang dan juga akan menyerukan kejelasan karakter jaminan hutang kuasi-asingnya.

    “Para pemberi pinjaman dan investor akan menginginkan untuk melihat neraca, pernyataan profit atau kerugian, liabilitas dan aset-aset mereka,” ujar Ahmed.

    “Di pasar hari ini, perusahaan-perusahaan yang menyediakan informasi finansial harus dapat menarik modal dengan persyaratan yang lebih menarik,” tambahnya.

    Ahmed juga mengatakan bahwa kemungkinan akan ada satu periode ketidakpastian seputar regulasi dan kerangka kerja hukum dari sukuk, obligasi Islami.

    “Hal itu perlu diatasi,” ujarnya.

    Ujian utama bagi proses restrukturisasi Dubai World adalah publikasi sukuk oleh Nakheel, tangan real estate dari Dubai World, yang akan ditebus senilai USD 4.05 miliar pada tanggal 14 Desember.

    Ahmed mengatakan penting bagi Dubai World untuk memberikan informasi kepada para krditor dan investor sebanyak mungkin untuk memastikan restrukturisasi hutang berjalan dengan semestinya.

    “Tidak ada alasan menunda tindakan untuk berusaha memberikan lebih banyak informasi dan kejelasan status perusahaan di luar Dubai World,” ujar Ahmed.

    “Seiring berjalannya waktu, pemberian informasi itu akan dapat merespon kebutuhan pasar dan mendatangkan modal dengan harga yang lebih menarik.”

    Minggu lalu, Ahmed mengatakan bahwa IMF akan memotong pertumbuhan sektor non-minyak Uni Emirat Arab hingga secara signifikan kurang dari 3% dari yang diprediksikannya untuk tahun depan.

    “Uni Emirat Arab tidak hanya Dubai dan Dubai tidak hanya Dubai World, namun kita memang beranggapan bahwa dampak dari Dubai World akan menghambat pemulihan,” tambahnya.

    Ahmed mengatakan bahwa Uni Emirat Arab tidak membutuhkan bantuan keuangan IMF untuk menangani persoalan Dubai World.

    “Uni Emirat Arab memiliki banyak sumber, dan dana kekayaan berdaulat adalah salah satunya,” ujarnya. “Bagaimana tepatnya mereka menggunakan berbagai aset finansial untuk mengatasi persoalan mereka sekarang adalah sesuatu yang saya yakin akan dapat mereka temukan jalan keluarnya.”

    Ditanya apakah IMF seharusnya sudah melihat munculnya persoalan di Dubai World, Ahmed mengatakan bahwa IMF telah lama mengidentifikasi kenaikan harga aset di Uni Emirat Arab dan memperingatkan dampaknya bagi perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam pembangunan real estate dan afiliasi-afiliasi terkait, juga terhadap sektor perbankan.

    “Tentang apakah IMF dapat dan harus mampu masuk ke dalam sebuah perusahaan tertentu untuk melihat keuangannya, itu di luar peran IMF, dan lebih sulit dalam kasus-kasus perusahaan semacam ini,” ujar Ahmed. (rin/wf) http://www.suaramedia.com

  7. Daniy! says:

    Panjang sekali artikelnya. Terima kasih atas sumbangan kopasnya, bung Simon. Memang dunia Arab belakangan ini terlalu jor-joran membangun gedung megah nan mewah. Tujuannya memnciptakan sumber penghasilan negara selain dari sektor migas, yaitu pariwisata. Namun, siapa sangka kalau kemudian terjadi krisis dan harga properti anjlok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong> <pre lang="" line="" escaped="" highlight="">