Stasiun, Kereta, dan Undak-Undakan Pembeda Kelas

jbuvytpc6chdcap14tf.jpgUntuk kesekian kalinya saya kembali berkunjung ke salah satu tempat teramai di seluruh Jogja, Stasiun Tugu. Setelah membayar jasa peron tigaribu rupiah, kami mengambil tempat duduk di tempat perhentian kereta sebelah utara.

Menurut tiket yang dipegang Aulia, kereta bisnis Mutiara Selatan tujuan stasiun Gubeng Surabaya, akan tiba pada pukul 01.00 WIB, sehingga diperkirakan kami hanya perlu menunggu selama 30 menit. But, this is Indonesia. Maka, dari corong pemberitahuan stasiun, kami mendapat informasi bahwa kereta tersebut akan tiba empatpuluh menit lebih lambat daripada jadwal. Melayangkan pandang ke sekitar peron, saya mendapatkan sesuatu yang sebelumnya belum pernah saya temui sebelumnya. Pada jalur kereta sebelah utara ini, sedang dibangun undak-undakan setinggi sekitar tujuhpuluh senti yang bersisian dengan setiap kereta yang berhenti untuk menaikturunkan penumpang. Continue reading

Asal Mula Breadcrumb

Pertama kali saya berkenalan dengan kosakata Breadcrumb adalah ketika berkenalan dengan CMS Joomla. Salah satu modul ini merupakan fitur yang memungkinkan user untuk melacak keberadaan mereka pada sebuah situs yang sedang mereka kunjungi. Breadcrumb biasanya terletak pada bagian atas situs dan berbentuk horizontal yang berderet dari kiri ke kanan menunjukkan hirarki sebuah halaman situs. Struktur Breadcrumb bisa dilihat seperti berikut:

Home Page – Section Page – Sub Section Page Continue reading

Telaah Tingkat Kecukupan Diri dengan Parameter Paket Koneksi Internet

Apakah makna kata cukup bagi Anda? Terpenuhi segala kebutuhan? Tercapai semua keinginan? Terselesaikan semua pekerjaan? Relatif? Ya, bagi saya itu relatif. Sebab, tingkat ketercukupan seseorang akan sesuatu memiliki waktu dan tempatnya sendiri-sendiri. Seorang tukang becak beranak dua mungkin akan merasa cukup dengan penghasilan sembilanratus ribu perbulan, sementara saya pasti akan berkata tidak mungkin.

Sebab, kebutuhan dihitung berdasarkan dengan pengeluaran yang harus dilakukan. Jika sang tukang becak harus menukar penghasilannya dengan makanan, pakaian, sekolah anak, dan sewa rumah, maka saya harus menambahkan rincian pengeluaran untuk bensin, pulsa, dan internet. Namun, ketika HP saat ini sudah begitu mendunia, maka kebutuhan pulsa mungkin menjadi tak terelakkan bagi sang tukang becak untuk dimasukkan ke dalam pengeluaran bulanan.

Maka cukuplah saya membandingkan diri dengan tukang becak, sebab nyata-nyata kami memiliki kebutuhan yang berbeda. Yang ingin saya tuliskan selanjutnya adalah tingkat ketercukupan diri sendiri yang berubah seiring dengan berjalannya waktu.

Pertama kali memiliki koneksi internet pribadi, saya merasa sangat cukup dengan paket data 250MB dari Xplor. Malahan jumlah segitu terkadang berlebihan hingga saya kerap menyisakan 50MB di akhir masa aktif. Modem HP yang saya gunakan pertama kali mungkin turut memberi andil pada hal tersebut. Selain pada kemampuannya yang hanya mendukung sinyal GPRS yang lamban, terkadang koneksi internet terputus dengan sendirinya, sehingga secara tidak langsung mengurangi jatah waktu saya untuk berkelana dari satu web ke web lain.

Beberapa waktu kemudian, modem HP tersebut saya ganti dengan modem HSDPA yang mendukung sinyal 3G sehingga kecepatan akses bertambah. Berselang dua minggu kemudian, saya mencoba paket internet internet unlimited MobileQu dari Quasar. Paket ini juga menggunakan jaringan XL, namun kecepatannya tidak terlalu bagus dibandingkan dengan layanan dari Xplor sendiri. Kelebihannya terletak pada kata ‘unlimited’ yang membuat saya tak lagi sering-sering melongok status koneksi jumlah transfer data pada taskbar.

Dengan kemampuan berinternet tak terbatas ini, saya menjadi lebih leluasa untuk mengakses berbagai jenis situs. Checkbox “Automatically load pictures” yang dulu sering saya disable pada setting Firefox, kini selalu tercentang. Account StumbleUpon yang dulu hanya saya daftarkan iseng-iseng, kini menjadi sahabat selalu setiap kali online.

Namun, MobileQu menjadi terlalu mahal bagi saya ketika Telkomsel meluncurkan paket internet unlimited dengan harga lebih dari setengah yang ditagihkan MobileQu. Maka, saya pun berpindah ke lain hati. Saya mengajukan aplikasi untuk KartuHALO sepuluh hari yang lalu dan saat ini tengah menanti pemberitahuan lebih lanjut.

Hari ini kemungkinan koneksi MobileQu akan diputus mengingat saya tidak membayar kewajiban tagihan pada tenggat waktu kemarin. Sementara itu, KartuHALO yang saya ajukan tak kunjung aktif. Hal ini mengharuskan saya untuk kembali kepada Xplor untuk beberapa waktu.

Sedikit berandai-andai, jika ternyata aplikasi KartuHALO saya ditolak, apakah saya akan masih merasa cukup dengan koneksi Xplor volume based seperti dulu lagi? Nilai kata ‘unlimited’ dengan ‘quota 250MB’ terasa sungguh besar bedanya. Dengan kembali ke volume based (atau time based), itu berarti saya harus kembali pada pengalaman berinternet tanpa gambar, meninggalkan StumbleUpon dan Youtube, serta kembali menginjakkan kaki ke Warnet.

Sungguh, terkadang saya begitu berat untuk kehilangan. Kembali ke masa lalu tidak selalu menyenangkan. Bagaimana dengan Anda?