Mencintai Diri Sendiri Lewat Flickr!

Berfoto bukanlah kegemaran saya, namun menyimpan foto diri adalah kesenangan tersendiri. Terutama melihat diri saya sepuluh tahun yang lalu berpose di depan kamera poket berfilm rol isi 36. Saya kerap berceloteh kepada kawan saya tentang beruntungnya anak-anak saat ini karena mereka bisa melacak bagaimana rupa dan tingkah mereka pada waktu kecil. Orang tua mereka dapat dengan mudah memotret dan merekam video anak mereka melalui ponsel dan disimpan untuk diperlihatkan ketika sang anak sudah beranjak besar.

Saat ini saya hanya punya beberapa pose telanjang saya sewaktu masih berumur 6 bulan. Beberapa saya selipkan di buku agenda kerja, sehingga saya bisa melihat dan mengingat bagaimana riwayat rupa saya duapuluh empat tahun yang lalu. Sisa foto yang lain masih tersimpan dengan rapi di album foto di rumah. Oleh sebab tersimpan dalam album itulah, maka foto-foto tersebut jarang sekali untuk dilihat kecuali jika tertemukan pada waktu yang tak disengaja ketika hendak mencari sesuatu barang yang terselip entah di rak buku.

Saat ini jaman memang sudah berubah ketika foto-foto tak hanya bisa tersimpan rapi di dalam album foto. Dengan mudah orang dapat memindai (scan) fotonya ke dalam bentuk digital dan dengan waktu singkat dapat disimpan ke dalam harddisk komputer. Ketika era Web 2.0 memasuki masanya, maka foto tidak lagi bisa dilihat oleh keluarga, kerabat, dan sahabat. Layanan social networking seperti Friendster, FaceBook, dan Flickr memudahkan siapa saja untuk mengakses dan melihat foto yang kita upload ke dalamnya.

Menyimpan foto berarti mencintai setiap kenangan yang terkandung di dalamnya. Dan dengan Flickr beserta dengan situs social networking lainnya, membantu untuk berbagi dan melestarikan kenangan tersebut hingga waktu yang tak terbatas.

Hari ini 2 Tahun Yang Lalu

Pagi ini 2 tahun yang lalu saya terbangun dengan terburu-buru. Bukan sekedar dering alarm ponsel biasa, namun guncangan 5,8 skala richter yang seketika membuat saya berpikir bahwa saya telah berada di ujung dunia. Kiamat!

Setelah satu menit berlalu, saya mencoba menduga apa gerangan yang terjadi se kaligus memastikan posisi matahari, apakah masih terbit dari timur ataukah sudah dari barat. Ternyata semua baik-baik saja, namun tidak setelah itu.

Dalam hitungan jam, dunia telah mengetahui sebuah berita baru: Ada gempa di Jogja.

Kesingkatan Bill

Aku merasa dunia begitu singkat. Seperti menghitung hari yang selalu berulang. Aku selalu menghitung setiap aku bangun pagi:

Senin
Selasa
Rabu
Kamis
Jumat
Sabtu
Minggu

Selalu berulang dan membuatku semakin terperangkap dengan sistem rutinitas. Jika setiap hari aku selalu harus menderita untuk bangun dan berangkat kerja, maka aku selalu merindukan Minggu untuk kembali.

Memang, Minggu selalu datang, namun aku harus melewati enam hari yang melelahkan untuk mencapainya. Mungkin ini karena aku selalu berpikir bahwa hari adalah sesuatu yang terus berulang. Dengan pola pikir seperti ini, maka aku akan selalu merasa bahwa tidak ada yang bisa diraih di depan sana, dan Minggu adalah saat terbaik untuk ditunggu.

Aku tak pernah berpikir hari sebagai sesuatu yang linear, berjalan lurus, tanpa ada repetisi. Setiap hari adalah waktu yang berbeda. Senin ini, Senin minggu lalu, dan Senin minggu depan adalah waktu yang sama sekali berbeda. Mungkin dengan pola pikir seperti ini aku bisa melihat bahwa memang ada sesuatu di depan sana. Sesuatu yang banyak orang bilang sebagai masa depan.

Maka hari-hari yang akan kulalui bukanlah sebuah repetisi atas masa lalu melainkan sebagai proses menuju masa depan. Mungkin aku akan mencoba.

Sistem Rutinitas Bill

Pukul 6.30 pagi. Aku telah menyetel alarm pada ponselku yang pasti akan membuatku terbangun dalam lima menit lagi. Aku ingat bahwa aku menyetelnya dengan penuh kesadaran malam tadi, hanya saja aku tak setuju dengan waktunya. Kalau saja aku bisa memulurkan waktunya lebih panjang, sehingga aku bisa tidur lebih panjang pagi ini.

Tapi aku tidak bisa. Ada sistem yang aku harus patuhi yang membuat aku harus terjaga setiap pukul enam tigapuluh lima pagi. Orang bilang itu sistem rutinitas. Selama limabelas tahun aku telah hidup dalam sistem tersebut dan terkadang (malah lebih sering kali ini) aku berpikir untuk mengabaikan sistem tersebut. Continue reading

Lebih Kuat, Lebih Besar, Lebih Baik

Di sebuah perkampungan, tersebutlah sebuah toko kelontong yang merupakan satu-satunya tempat yang menyediakan segala jenis kebutuhan bagi masyarakat setempat. Selama bertahun-tahun, toko kelontong tersebut menjadi tujuan utama setiap penduduk yang ingin membeli barang kebutuhan sehari-hari mulai dari beras, gula, teh, pasta gigi, deterjen, pembalut, rokok, hingga pakaian anak-anak.

Pemiliknya adalah sepasang suami istri yang boleh disebut pribumi sebab kakek dan nenek mereka sudah turun temurun hidup di kampung tersebut. Toko mereka tersebut terlihat sederhana dengan rak-rak barang dagangan yang tertata menempel pada dinding kusam yang jarang tersentuh oleh cat baru setiap tahunnya.

Tak ada yang terlalu istimewa pada toko tersebut, namun karena dia satu-satunya yang buka di tengah perkampungan, otomatis dia menjadi satu-satunya tujuan bagi penduduk kampung. Secara umum, pelayanan yang diberikan pemilik warung tersebut juga tidak mengecewakan. Walaupun mereka terhitung sebagai satu-satunya toko kelontong, tidak lantas mereka berniat untuk mempraktekkan monopoli dengan memberi harga yang berada di atas standar pasar.

Setelah tujuh tahun berlalu, perubahan terjadi. Sepasang suami istri pemilik toko kelontong tersebut tidak lagi menjadi satu-satunya penyedia barang kebutuhan di perkampungan tersebut. Pasalnya, tepat di sebelah toko mereka tersebut telah berdiri sebuah bangunan baru yang menjalankan usaha yang sama dengan yang mereka buat.

Toko baru itu terbangun di atas pondasi yang kokoh, dengan cat yang putih bersinar, serta puluhan lampu neon yang berpendar di atas rak-rak barang jualan yang tertata rapi berjajar. Dinding-dinding luarnya terbuat dari kaca yang 100% transparan sehingga setiap orang yang lewat dapat melihat apa saja yang dijual di dalam toko tersebut. Pada pintu depannya tertempel harga-harga barang yang dengan gamblang tersebut hingga ke titik koma. Para pembeli pun tidak perlu merinci satu-satu barang yang ingin mereka beli kepada pelayan toko, melainkan langsung mengambil dari rak-rak yang ada. Mereka tinggal mengambil keranjang, berkeliling, lalu menaruh keseluruhan barang yang hendak mereka beli di kasir depan. Para pelayan toko tersebut juga cekatan menghitung barang belanjaan masing-masing pembeli. Berbekal pistol laser barcode dan komputer mini, seluruh belanjaan dapat segera diketahui totalnya dalam waktu kurang dari tiga menit.

Toko yang baru tersebut merupakan milik seorang pengusaha dari perkotaan yang sedang mengembangkan usahanya ke daerah. Enam bulan yang lalu, kampung sebelah telah terbangun toko kelontong yang baru dengan pemilik yang sama. Kali ini, giliran kampung ini yang mendapat sasaran perluasan usaha sang pengusaha dari kota tersebut. Kata desas-desus, pemilik toko tersebut adalah orang keturunan.

Tidak ada yang salah memang dengan pemilik toko yang katanya keturunan, namun yang jelas banyak penduduk yang hendak berbelanja kebutuhan sehari-hari tidak lagi menuju ke warung kelontong milik sepasang suami istri tersebut. Mereka lebih tertarik dengan toko baru yang lebih bersih, lebih tertata, lebih cepat pelayanannya, dan juga lebih murah harganya. Selisih harga seratus perak merupakan faktor yang sangat mempengaruhi keputusan penduduk untuk memilih di mana mereka akan berbelanja.

Perlahan namun pasti, toko kelontong tradisional itupun mulai kehilangan pembeli. Sepasang suami istri tersebut mulai berpikir untuk menutup usahanya yang telah bertahun-tahun mereka jalankan. Berkurangnya pembeli membuat barang dagangan mereka tidak berputar dan menumpuk di rak, dan otomatis uang yang mereka jalankan pun tak mengalir lancar seperti biasa. Sebab mereka kalah bersaing dengan pesaing baru yang lebih besar, lebih kuat, dan lebih menarik.

Ini memang tidak ada hubungannya dengan isu rasisme. Ini hanya soal bisnis. Menurut Anda?

Limaribu dan Makhluk Bernama Inflasi

Baru saja pulang dari mengantri premium yang terjadi bukan karena kesengajaan. Tidak sengaja sebab bensin di mobil memang sudah menipis. Tidak sengaja pula sebab memang saya tidak tahu bahwa ternyata malam ini adalah malam terakhir premium dapat ditebus dengan harga empatribu limaratus perak per liternya. Esok pagi, serta merta ia akan berubah menjadi enamribu rupiah per liter.

Ini inflasi! Ya, inflasi memang kenyataan semenjak mata uang yang kita pegang terus saja menurun daya tukarnya terhadap barang-barang. Ingat soal bensin, teringat pula masa lima tahun yang lalu ketika uang limaribu rupiah dapat memenuhi tangki bensin sepeda motor Honda Grand. Itupun meluber sebab idealnya adalah empatribu limaratus.

Hari ini, apa yang bisa kita dapatkan dengan uang limaribu? Hmm… Selain satu liter bensin, tentunya masih ada yang mampu didapat dengan nominal itu. Saya biasa bersarapan pagi di warung yang juga menjual bensin eceran di Condongcatur: sepiring nasi putih dengan sayur oseng kacang panjang dan lauk telur dadar. Semuanya seharga duaribu rupiah. Dengan limaribu rupiah, itu berarti dua kali sarapan pagi. Saya tak tahu esok pagi apakah duaribu masih cukup untuk menebus sepiring nasi telur saya, namun yang jelas harga dagangan bensinnya turut naik.

Sore hari, kami sekantor biasa mengemil gorengan yang dijual ibu warung sebelah kantor. Dengan limaribu rupiah, saya akan mendapatkan sebuah paket gorengan berisi delapan buah item yang terdiri atas pisang, tempe, tahu, bakwan, atau tape. Saya tak tahu apakah esok hari paket tersebut masih berjumlah delapan buah.

Semua memang harus naik dan nampaknya tidak pernah akan turun. Dahulu sewaktu kecil saya selalu berlogika jika mendengar pengumuman di Berita Malam TVRI tentang kenaikan harga BBM. Jika ada penaikan harga bensin, pasti ada penurunan. Saya menunggu hari demi hari, hingga berita tentang kenaikan harga BBM berikutnya kembali disiarkan oleh Usi Karundeng. Rupanya saya bersandar pada logika yang salah. Tak pernah ada penurunan, daniy!

Ada! Penurunan itu ada. Di saat harga barang-barang terus membubung, ada hal yang terhempas turun: nilai mata uang. Kata ibu Suratmi guru saya kelas enam SD berkata: itu namanya inflasi.

Inflasi adalah ketika uang limaribumu tak lagi mampu membeli seliter bensin.
Inflasi adalah ketika uang limaribumu tak lagi setara dengan sepiring nasi telur
Inflasi adalah ketika uang limaribumu tak dapat ditukar lagi dengan delapan buah gorengan.
Inflasi adalah ketika uang limaribumu hanya berarti sebagai selembar kertas bercetak angka limaribu di keempat sisi yang kamu bisa laminasi dengan biaya sepuluhribu.

Inflasi itu ada, Daniy!

Hari Libur: Tutup atau Tetap Buka?

Semalam saya dibangunkan oleh kawan saya yang hendak berangkat ke Jakarta. Dia sedang mencari solusi bagaimana caranya untuk mendapatkan print hasil desainnya karena printer miliknya sedang mengalami masalah. Hari ini memang hari libur nasional perayaan Waisak, jadi bisa dipastikan bahwa layanan cetak-mencetak di seluruh Jogja tutup. Sedangkan hardcopy dari desain tersebut harus dibawa saat itu juga untuk meeting esok hari di Jakarta pukul 10 pagi. Sebagai catatan, mereka menggunakan mobil, sehingga bisa dihitung lama perjalanan akan memakan waktu sekitar 10 hingga 12 jam.

Solusi pertama yang ada di benak saya adalah menggunakan printer yang ada di kantor. Untuk jumlah print 15 lembar saya kira tinta yang ada masih cukup. Maka bergegaslah kami menuju kantor saya di Condongcatur. Printer memang oke, tinta memang banyak, namun hasil tak memadai. Hasil print menjadi lebih gelap daripada seharusnya. memang setiap printer memiliki karakteristik tinta sendiri-senndiri, sehingga untuk urusan keseragaman warna memang tidak bisa dijadikan jaminan.

Sambil mengutak-atik levels dan curves agar hasil print lebih cerah dari yang sebelumnya, kawan saya pun bercerita bagaimana susahnya dia jika harus berurusan dengan cetak-mencetak.

“Aku sudah kontak Ortindo, Spektrum, Uvindo, dll semuanya libur”

Mendengar serangkaian nama layanan vetak tersebut, saya langsung teringat sebuah nama yang belum dia sebutkan: GKM. Satu malam sebelumnya, saya bertanya tentang harga stiker one way vision dan bertanya apakah hari libur Waisak juga ikut tutup. Kata mereka,”Tidak tutup, Mas. Hanya saja buka sampai jam 11 malam”. Jika hari biasa, mereka memang tidak pernah tutup alias buka 24 jam.

Jam dinding menunjukkan waktu 10.10 malam, dan kami pun langsung bergegas menuju GKM. Dalam 30 menit hasil print dapat selesai dengan sempurna. Saya terkagum dengan konsep usaha GKM yang masih berkeras untuk membuka layanannya di waktu libur nasional pun. Secara nalar, tanggal berwarna merah pada kalender adalah waktu setiap orang untuk beristirahat dan sejenak lepas dari rutinitas. Apalagi jika merah tersebut adalah hari libur nasional yang berkaitan dengan perayaan hari besar tertentu. Sudah sepantasnya bahwa setiap perusahaan memberikan hak karyawannya untuk berlibur.

Lain halnya dengan GKM. Mereka menangkap peluang pada tanggal merah ketika banyak layanan jasa print digital yang lain turut meliburkan diri bersama pemerintah. Dengan semakin berkembangnya kota Jogja, maka kebutuhan untuk cetak mencetak instan tidak hanya muncul pada saat hari kerja saja. Hari liburpun pasti ada kesempatan setiap orang untuk membuat entah sekedar kartunama, ataupun poster ulangtahun untuk si kecil.

Tanggal merah memang dibuat dan disepakati bersama sebagai hari rehat nasional. Pekerjaan dan tugas boleh saja diabaikan pada hari tersebut. Namun, yang namanya kebutuhan, tak mengenal liburan. Kebutuhan seseorang berarti kesempatan dan peluang bagi orang lain untuk meraih keuntungan. Yang tertinggal kemudian adalah keputusan untuk mengambil atau tidak peluang tersebut.